Lazismu Kendal

Lazismu Kendal

Pemberdayaan Zakat Produktif Lazismu KL Sukorejo Melalui Program Ternak Ayam Petelur

Lazismu Kantor Layanan (KL) Sukorejo terus berupaya mengembangkan penyaluran zakat secara produktif melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi umat. Salah satu inisiatif terbaru yang dijalankan adalah Program Ternak Ayam Petelur di Ranting Tlangu, sebuah desa yang menjadi basis jamaah Muhammadiyah di Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal. Program ini menjadi bentuk nyata dari transformasi penyaluran zakat agar tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga memiliki nilai manfaat jangka panjang bagi para penerima manfaat.

Koordinator program, Nasikin, menjelaskan bahwa program ini merupakan langkah strategis dalam mengoptimalkan dana zakat agar berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. “Tahun ini kami menyalurkan 100 ekor ayam petelur kepada lima penerima manfaat. Setiap penerima mendapatkan 20 ekor ayam beserta kandang dan subsidi pakan sampai ayam tersebut siap memproduksi telur,” ujar Nasikin saat ditemui di lokasi program, Kamis (23/10).

Menurut Nasikin, pemilihan ayam petelur sebagai objek pemberdayaan didasarkan pada pertimbangan ekonomi dan keberlanjutan. Biaya modal yang dibutuhkan relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan ternak lain seperti domba atau sapi. Dengan demikian, program ini dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat dan membantu mereka memiliki usaha produktif skala rumah tangga. “Ayam petelur dipilih karena modalnya tidak terlalu besar, tapi hasilnya cukup menjanjikan jika dikelola dengan baik,” ungkapnya.

Ayam petelur yang diberikan kepada para penerima manfaat berusia sekitar 13 pekan. Berdasarkan pengalaman, ayam mulai bertelur ketika mencapai usia minimal 20 pekan dan memiliki masa produktif hingga sekitar 100 pekan. Selama periode tersebut, penerima manfaat akan memperoleh pendampingan serta pelatihan teknis mengenai perawatan dan manajemen usaha peternakan sederhana.

Nasikin menambahkan bahwa meskipun program ini tidak dimaksudkan sebagai sumber penghasilan utama, manfaat ekonominya tetap signifikan bagi masyarakat kecil. “Mungkin memang belum bisa menjadi pekerjaan pokok, tetapi program seperti ini memberi peluang bagi penerima zakat untuk berdaya dan memiliki tambahan penghasilan. Nilai zakat pun menjadi lebih produktif dibandingkan hanya disalurkan secara konsumtif,” katanya.

Pelaksanaan program ini tidak terlepas dari beberapa kendala teknis, terutama dalam pengadaan ayam petelur. Ketersediaan ayam usia siap produksi tidak selalu ada di pasar hewan setempat. Untuk mengatasi hal tersebut, Lazismu KL Sukorejo menjalin kerja sama dengan Farm Suwignyo, sebuah mitra yang dapat menyediakan ayam, pakan, dan kandang. Selain itu, mitra tersebut juga memberikan pelatihan dasar kepada penerima manfaat agar mampu mengelola ternak secara mandiri dan berkelanjutan.

Kerja sama ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara lembaga zakat dan pelaku usaha dalam memperkuat ekonomi umat melalui pendekatan produktif. Program Ternak Ayam Petelur di Ranting Tlangu menunjukkan bahwa dengan pengelolaan yang baik, dana zakat tidak hanya mampu mengentaskan kemiskinan sesaat, tetapi juga menciptakan kemandirian ekonomi di kalangan masyarakat.

“Ke depan kami berharap program ini dapat diperluas ke ranting-ranting lain di Sukorejo. Jika hasilnya baik, tentu kami akan berusaha mereplikasi di wilayah lain,” tutup Nasikin optimistis.

Tentang Berita dan Artikel Lainya

Scroll to Top