Lazismu Kendal

Lazismu Kendal

Ketika Rumah Sakit Harus Berlayar: Kisah Klinik Apung Said Tuhuleley

Pagi itu, laut Maluku tampak tenang. Matahari perlahan meninggi, menyinari gugusan pulau yang terhampar di kejauhan. Dari sebuah dermaga kecil, sebuah kapal bergerak perlahan meninggalkan daratan. Tidak ada suara sirene ambulans. Tidak ada jalan raya yang ramai. Hanya suara mesin kapal, deburan ombak, dan angin laut yang menemani perjalanan.

Namun, kapal itu membawa sesuatu yang sangat berarti: harapan.

Di atas kapal tersebut terdapat tenaga kesehatan, obat-obatan, perlengkapan medis, serta para relawan yang siap memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kapal itu dikenal dengan nama Klinik Apung Said Tuhuleley, sebuah ikhtiar kemanusiaan yang digagas oleh Lazismu dan Muhammadiyah untuk menjangkau masyarakat di wilayah kepulauan Maluku.

Bagi sebagian orang, berobat mungkin cukup dengan mengendarai sepeda motor atau mobil beberapa kilometer menuju puskesmas atau rumah sakit. Namun, bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil dan terpencil, persoalannya tidak sesederhana itu.

Ketika sakit datang, mereka harus berhadapan dengan jarak, ombak, cuaca, dan keterbatasan transportasi. Untuk mendapatkan layanan kesehatan, sebagian masyarakat bahkan harus menempuh perjalanan laut yang panjang. Dalam kondisi tertentu, perjalanan tersebut bukan hanya melelahkan, tetapi juga dapat menjadi persoalan hidup dan mati.

Di tengah kenyataan itulah sebuah gagasan sederhana muncul: jika masyarakat sulit datang ke layanan kesehatan, mengapa layanan kesehatan tidak datang kepada masyarakat?

Maka, lahirlah Klinik Apung Said Tuhuleley.

Kapal ini bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah klinik yang bergerak dari satu pulau ke pulau lainnya. Kapal tersebut dirancang dengan panjang sekitar 15 meter dan lebar 3,5 meter. Pengadaannya menelan biaya sekitar Rp2 miliar, yang dihimpun melalui dukungan masyarakat dan donasi yang dipercayakan melalui Lazismu.

Tetapi ada satu hal yang membuat kapal ini menjadi lebih istimewa daripada sekadar sebuah kapal kesehatan.

Namanya.

Said Tuhuleley.

Nama tersebut diambil dari seorang tokoh Muhammadiyah asal Maluku, tepatnya Saparua, yang dikenal sebagai pejuang kaum marginal. Semasa hidupnya, Said Tuhuleley banyak mencurahkan perhatian pada pemberdayaan masyarakat miskin dan kelompok yang selama ini berada di pinggiran. Ia juga dikenal sebagai sosok yang berusaha membumikan dakwah sosial dalam kehidupan nyata. Said Tuhuleley berpulang pada 9 Juni 2015.

Karena itu, nama Said Tuhuleley seolah menjadi doa sekaligus pesan.

Bahwa perjuangan tidak boleh berhenti ketika seseorang telah tiada.

Bahwa gagasan tentang keberpihakan kepada masyarakat kecil harus terus hidup.

Dan bahwa dakwah tidak selalu harus disampaikan melalui mimbar.

Kadang-kadang dakwah harus berlayar.

Pada Februari 2017, Klinik Apung Said Tuhuleley resmi berlayar menuju Maluku. Kapal tersebut berangkat dari Jakarta dan tiba di Ambon setelah menempuh perjalanan laut selama beberapa hari. Peresmian operasionalnya dilakukan di Ambon pada 24 Februari 2017 dan disaksikan oleh Presiden Joko Widodo dalam rangkaian Sidang Tanwir Muhammadiyah.

Sejak saat itu, kapal kecil tersebut membawa misi yang besar.

Ia mendatangi masyarakat pesisir dan pulau-pulau terpencil. Pelayanan kesehatan diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat yang membutuhkan. Namun, seiring perjalanan waktu, perannya berkembang. Klinik Apung Said Tuhuleley tidak hanya berbicara tentang kesehatan, tetapi juga pendidikan, kemanusiaan, pendampingan, dan dakwah sosial.

Bayangkan seorang ibu di sebuah pulau kecil yang selama ini harus menunggu kesempatan untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Kemudian suatu hari, ia melihat sebuah kapal mendekati dermaga.

Bukan kapal barang.

Bukan kapal wisata.

Bukan pula kapal nelayan.

Kapal itu datang membawa dokter, perawat, obat-obatan, dan para relawan.

Mungkin bagi orang lain pemandangan tersebut terlihat biasa. Namun, bagi masyarakat yang selama ini hidup jauh dari akses layanan kesehatan, kedatangan kapal itu dapat menjadi sebuah peristiwa yang sangat berarti.

Di situlah makna filantropi menemukan bentuknya.

Zakat, infak, dan sedekah yang terkumpul dari tangan masyarakat tidak berhenti sebagai angka dalam laporan keuangan. Ia dapat berubah menjadi obat untuk seorang ibu, pemeriksaan kesehatan bagi seorang anak, pendampingan bagi masyarakat pesisir, bahkan menjadi sebuah kapal yang berlayar menembus batas geografis.

Inilah yang membuat Klinik Apung Said Tuhuleley menjadi lebih dari sekadar program pelayanan kesehatan. Ia adalah gambaran tentang bagaimana kebaikan dapat bergerak.

Kebaikan yang biasanya kita bayangkan berjalan di atas tanah, kali ini bergerak di atas air.

Kebaikan yang biasanya menunggu orang datang, kali ini justru mendatangi mereka.

Dan kebaikan yang mungkin berawal dari sebuah donasi kecil, dapat menjelma menjadi manfaat besar bagi masyarakat yang berada jauh di pelosok negeri.

Perjalanan Klinik Apung Said Tuhuleley juga mengajarkan satu hal penting kepada kita: jarak seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti melayani.

Maluku adalah wilayah kepulauan dengan banyak pulau kecil dan terpencil. Kondisi geografis tersebut membuat akses pelayanan menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pendekatan pelayanan yang biasa dilakukan di daratan tidak selalu dapat diterapkan begitu saja. Klinik Apung menjadi salah satu bentuk kreativitas dalam menjawab persoalan tersebut.

Kapal itu mungkin tidak sebesar rumah sakit Muhammadiyah yang berdiri megah di kota-kota besar. Fasilitasnya pun tentu tidak selengkap rumah sakit modern. Namun, nilai perjuangannya tidak dapat diukur hanya dari ukuran bangunan atau kelengkapan fasilitas.

Sebab, terkadang yang paling dibutuhkan masyarakat bukanlah bangunan yang besar, melainkan seseorang yang bersedia datang.

Klinik Apung Said Tuhuleley datang membawa pesan bahwa tidak boleh ada masyarakat yang merasa terlalu jauh untuk dilayani.

Ia mengajarkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas pulau.

Bahwa kesehatan adalah hak semua orang.

Bahwa dakwah dapat hadir dalam bentuk pelayanan.

Dan bahwa filantropi bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang memastikan pemberian tersebut benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Kini, setiap kali kapal itu kembali membelah laut Maluku, sesungguhnya yang sedang bergerak bukan hanya sebuah kapal.

Ada doa para donatur di dalamnya.

Ada semangat para relawan.

Ada cita-cita Muhammadiyah untuk menghadirkan kemaslahatan.

Ada nama Said Tuhuleley yang terus dikenang.

Dan ada harapan dari masyarakat pulau-pulau kecil yang menunggu kedatangan sebuah kapal.

Kapal itu mungkin terlihat kecil di tengah luasnya laut.

Namun, bagi mereka yang berada di pulau terpencil, kapal tersebut membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada ukurannya.

Ia membawa harapan.

Dan mungkin, inilah hakikat dari sebuah gerakan kemanusiaan: bukan tentang seberapa besar kapal yang kita miliki, melainkan seberapa jauh kita bersedia berlayar untuk menemukan mereka yang membutuhkan.

Karena ketika kebaikan memiliki keberanian untuk berlayar, tidak ada pulau yang terlalu jauh untuk dijangkau.

Tentang Berita dan Artikel Lainya

Scroll to Top