Oleh: Sutiyono
Membersamai Lazismu melaksanakan tebar hewan qurban ketepian negri,seakan menikmati potret kesenjangan di negri tercinta. Kota kota tujuan wisata, Bandung, Puncak, Jogjakarta di hari libur penuh sesak dikunjungi wisatawan lokal yang menghamburkan kekayaannya untuk menikmati hiburan, kontras dengan laporan Bank Dunia bahwa masih lebih 63% penduduk Indonesia masih miskin pada 2025. Demikian halnya pesta tahunan penyembelihan hewan qurban, beberapa wilayah viral diberitakan penyembelihan melimpah, bahkan di suatu desa di Sukorejo Kendal, pembagian bukan lagi tiap kepala keluarga,bahkan tiap jiwa. Di desa lain satu wilayah RT dengan penduduk tidak lebih 50 KK memotong 4 ekor sapi, di sebelahnya, masih satu kecamatan kami dapati sebuah kampung dengan 60 kk tidak menyembelih sama sekali, di kampung lainnya, satu kampung dengan penduduk 150 KK hanya memotong dua ekor kambing.
Ada berbagai penyebab yang saling kait mengkait, seakan akut,mustakhil diurai. Kemiskinan yang akut, jangankan berpikir untuk berqurban,jika untuk kebutuhan dasarsajamasih kesulitan. Jikapun sesekali ada yang qurban, takut dianggap riya/pamer, baru menyerahkan pada pagi hari 10 dzulhijah, hingga sangat sulit direncanakan. Di perkampungan yang berlebih, juga tertanan tradisi bahwa berqurban ya di lingkungan sendiri, bahkan afdholnya dipotong sendiri, jikapun berlebih, dibagikan nanti, setelah lingkungantercukupi, dalam keterbatasan waktu/kesempatan, dalam keterbatasan informasi, ujung ujungnya kesenjangan lagi, daerah yang populair akan menumpuk, sementara daerah lain hanya melewatkan idul qurban dengan kehampaan yang nyata.
Lazismu mengajak para dermawan untuk berqurban lebih dari seekor, agar mampu berbagi ke tepian negri. Agar para dermawan mau melepaskan tradisi berqurban hanya di lingkungan, untuk siap tidak populer lantaran namanya tidak tercantum di papan pengumuman masjid sebagai shohibul qurban dan diumumkan di Toa masjid. Untuk tepian yang membutuhkan, kami ajarai membuat perencanaan, menabung, arisan juga di standarkan, kwantitas daging yang diterima tiap bungkus, untuk menuju kesana Lazismu memberikhan stimulan maximal sejumlah yang mampu dihimpun warga hingga mencapai standar minimal. Dengan berjalannya waktu, kini lebih 30 th program tebar hewan qurban, beberapa daerah telah mampu berswasembada, artinya standar yang ditetapkan, yakni tiap bagian kisaran 0,5 kg – 1 kg daging telah mampu dicukupi dari dermawan di lingkungannya. Ada Gondang di Plantungan, Gebangan di Pagaruyung, juga Boyogunung di Patean. Beberapa daerah segera menyusul, terima kasih donatur, qurban makin merata makin bermakna.
