Oleh : Ilham Khur Aeni
Ketika sebuah media memberitakan kehilangan uang miliaran rupiah, masyarakat langsung heboh. Ketika seseorang kehilangan kendaraan, telepon genggam, atau harta benda, berbagai upaya dilakukan untuk menemukannya kembali. Bahkan, tidak sedikit yang rela mengeluarkan biaya besar demi mendapatkan kembali sesuatu yang hilang.
Namun, ada satu kehilangan yang jauh lebih besar daripada kehilangan harta, jabatan, maupun kekayaan dunia. Ironisnya, kehilangan ini sering kali tidak disadari, tidak dicari, bahkan dianggap biasa saja. Kehilangan tersebut adalah meninggalkan shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dua rakaat sebelum Subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini bukan sekadar motivasi untuk melaksanakan shalat sunnah qabliyah Subuh. Ini adalah ukuran nilai yang diberikan langsung oleh Rasulullah ﷺ. Beliau tidak mengatakan lebih baik daripada emas, rumah mewah, atau kendaraan terbaik, tetapi lebih baik daripada dunia beserta seluruh isinya.
Artinya, setiap kali seseorang sengaja meninggalkan dua rakaat sebelum Subuh tanpa uzur, sesungguhnya ia sedang kehilangan sesuatu yang nilainya melebihi seluruh kekayaan dunia. Betapa besar kerugian itu.
Sayangnya, banyak di antara kita yang justru merasa tenang ketika kehilangan keutamaan tersebut. Alarm dimatikan, rasa kantuk diikuti, lalu langsung mengerjakan shalat Subuh atau bahkan terlambat menunaikannya. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa kehilangan.
Padahal, jika dompet tertinggal atau telepon genggam hilang, hati menjadi gelisah seharian. Pikiran dipenuhi rasa khawatir dan berbagai cara dilakukan agar barang itu kembali.
Mengapa kita lebih sedih kehilangan benda yang nilainya terbatas, tetapi tidak merasa kehilangan ketika Allah telah menyediakan pahala yang nilainya lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya?
Inilah salah satu bentuk lemahnya kesadaran ruhani. Kita sering kali mengukur keuntungan dengan angka, sementara keuntungan akhirat dianggap sebagai sesuatu yang abstrak. Padahal, janji Rasulullah ﷺ adalah kebenaran yang tidak diragukan sedikit pun.
Bayangkan apabila setiap pagi Allah menawarkan hadiah yang nilainya lebih besar daripada seluruh aset yang ada di bumi. Tentu semua orang akan berlomba-lomba mengambilnya. Anehnya, hadiah itu benar-benar ada, caranya sangat mudah, hanya dua rakaat sebelum Subuh, tetapi justru sering kita lewatkan.
Kerugian meninggalkan shalat sunnah qabliyah Subuh bukan hanya kehilangan pahala. Ia juga merupakan tanda bahwa hati mulai kehilangan sensitivitas terhadap kesempatan beramal. Jika kesempatan yang begitu ringan saja kita abaikan, bagaimana dengan kesempatan-kesempatan amal lainnya yang lebih besar?
Sebagai seorang muslim, kita diajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang mengumpulkan dunia, tetapi juga tentang mengumpulkan bekal menuju akhirat. Keuntungan sejati bukan hanya bertambahnya saldo rekening, melainkan bertambahnya catatan amal yang kelak menjadi penolong di hadapan Allah.
Nilai inilah yang juga menjadi ruh dalam gerakan filantropi Islam. Di lingkungan Lazismu, misalnya, setiap program zakat, infak, sedekah, maupun pemberdayaan masyarakat sejatinya berangkat dari kesadaran bahwa kehidupan dunia hanyalah sarana untuk meraih keberuntungan yang lebih besar di akhirat.
Mereka yang berzakat bukan sedang mengurangi hartanya, tetapi sedang menginvestasikan kekayaan yang tidak akan pernah rugi. Mereka yang bersedekah bukan kehilangan uang, melainkan sedang memperoleh keuntungan yang dijanjikan Allah. Begitu pula mereka yang melayani umat, mengelola amanah, dan bekerja dengan penuh integritas, sesungguhnya sedang mengumpulkan bekal yang nilainya jauh melampaui materi.
Namun, seluruh amal sosial tersebut akan menjadi lebih indah apabila dibangun di atas pondasi ibadah yang kuat. Shalat adalah tiang agama, sedangkan shalat sunnah merupakan bentuk kecintaan seorang hamba kepada Rabb-nya. Amal sosial yang besar tidak boleh membuat kita meremehkan amal pribadi yang tampak kecil. Sebab di sisi Allah, bisa jadi dua rakaat sebelum Subuh memiliki nilai yang luar biasa.
Sering kali kita sibuk mengejar target pekerjaan, target penghimpunan dana, target program, hingga target karier. Semua itu memang penting sebagai bentuk ikhtiar. Akan tetapi, jangan sampai kesibukan tersebut membuat kita kehilangan kesempatan meraih sesuatu yang nilainya lebih besar daripada seluruh target dunia.
Mari kita renungkan. Berapa kali dalam sebulan kita meninggalkan dua rakaat sebelum Subuh? Jika jawabannya berkali-kali, berarti berkali-kali pula kita telah kehilangan sesuatu yang lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Andai kehilangan itu berbentuk uang, mungkin kita akan menghitung jumlah kerugiannya. Andai kehilangan itu berupa rumah, mungkin kita akan menangisinya. Tetapi karena kehilangan itu berupa pahala yang tidak terlihat oleh mata, kita sering kali tidak menyadarinya.
Mulai hari ini, marilah kita mengubah cara pandang. Jangan hanya merasa rugi ketika kehilangan harta. Merasalah rugi ketika kehilangan kesempatan beribadah. Jangan hanya mengejar keuntungan dunia. Kejarlah pula keuntungan yang telah Allah dan Rasul-Nya janjikan.
Semoga Allah memberikan kepada kita hati yang selalu rindu untuk bangun sebelum Subuh, memudahkan langkah kita menunaikan dua rakaat sunnah qabliyah Subuh, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga ibadah pribadi sekaligus menghadirkan manfaat bagi sesama melalui zakat, infak, sedekah, dan berbagai amal kebajikan.
Karena sesungguhnya, kehilangan terbesar bukanlah ketika harta kita hilang, melainkan ketika kita membiarkan berlalu kesempatan meraih sesuatu yang lebih baik daripada dunia dan seisinya.
