KENDAL – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, menyebabkan akses masyarakat terhadap air bersih semakin terbatas. Kondisi tersebut mendorong Muhammadiyah Kendal melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal bersama Lazismu Kendal untuk bergerak menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak.
Pada Minggu, 4 September 2026, bantuan air bersih disalurkan ke dua titik terdampak, yakni Dusun Pilangsari, Desa Sidodadi, Kecamatan Patean, dan Dusun Kiringan, Desa Trimulyo, Kecamatan Sukorejo. Sebanyak 27.090 liter air bersih didistribusikan menggunakan 1.806 galon berkapasitas 15 liter. Bantuan tersebut diterima oleh 353 kepala keluarga (KK).
Penyaluran dilakukan dengan metode galon. Sebelum digunakan, galon yang dihimpun dari masyarakat terlebih dahulu dibersihkan. Setelah dinyatakan layak digunakan, galon diisi dengan air bersih untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Air bersih tersebut bersumber dari Mata Air Seberuk, Kauman, Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo. Setiap kepala keluarga memperoleh lima galon berdasarkan hasil asesmen kebutuhan yang dilakukan relawan di lapangan.

Wakil Ketua PDM Kendal, Muntoha, menyampaikan rasa syukur karena di tengah kondisi kekeringan masyarakat dan relawan masih diberikan kesehatan untuk dapat saling membantu.
“Alhamdulillah, meskipun kita sedang menghadapi musibah, kita masih diberikan kesehatan sehingga dapat bersama-sama membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan air bersih,” ujar Muntoha dalam seremonial penyerahan bantuan.
Menurutnya, bantuan air bersih merupakan respons atas kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah Kendal. Penanganan bencana, kata dia, tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi antara berbagai unsur agar bantuan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan tepat sasaran.
Muntoha menegaskan bahwa Muhammadiyah akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dalam merespons dampak kekeringan. Pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), lembaga sosial, relawan, serta masyarakat memiliki peran penting dalam memastikan bantuan tersalurkan secara merata.
“Penanganan kekeringan tidak bisa dilakukan sendiri. Kita perlu berkolaborasi dan berkoordinasi dengan pemerintah, BPBD, PMI, lembaga sosial, relawan, dan masyarakat agar bantuan dapat merata dan tidak menumpuk di satu lokasi,” jelasnya.

Galon Dihimpun dari Masyarakat
Manajer Lazismu Kendal, Aofi AN Surya Madani, mengatakan bahwa bantuan tersebut merupakan hasil kepedulian masyarakat yang dihimpun melalui Lazismu Kendal. Tidak hanya berupa dana, masyarakat juga berkontribusi dengan menyumbangkan galon yang kemudian digunakan sebagai sarana distribusi air bersih.
“Segala bentuk dana bantuan dan juga galon ini dihimpun dari masyarakat melalui Lazismu,” kata Aofi.
Ia menjelaskan, dukungan datang dari berbagai elemen masyarakat. Siswa sekolah Muhammadiyah, warga, tenaga relawan, hingga pemilik kendaraan turut mengambil bagian dalam proses pengumpulan maupun distribusi bantuan.
Semangat gotong royong tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan kekeringan. Bantuan yang terkumpul kemudian diproses secara bertahap, mulai dari pengumpulan galon, pembersihan, pengisian air bersih, hingga pengiriman ke lokasi terdampak.
Pola distribusi menggunakan galon juga dirancang agar bantuan dapat diberikan secara berkelanjutan. Galon yang telah diterima warga nantinya dikumpulkan kembali dalam kondisi kosong untuk ditukar dengan galon berisi pada pengiriman berikutnya.
Mekanisme tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan bantuan dan mengurangi penggunaan wadah sekali pakai. Selain itu, pola tersebut menjadi salah satu upaya untuk memastikan bantuan dapat diberikan secara berkala kepada masyarakat yang masih mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Pola distribusi ini juga mempertimbangkan kondisi warga lanjut usia yang mengalami keterbatasan untuk mengambil air secara mandiri. Dengan sistem pengumpulan dan pengisian kembali, proses penyaluran diharapkan lebih terorganisasi dan menjangkau kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih.
Respons Perdana, Akan Dilakukan Bertahap
Wakil Ketua LRB PDM Kendal, Aman Wahyudi, mengatakan bahwa distribusi air bersih tersebut merupakan tahap perdana dari rangkaian respons Muhammadiyah terhadap dampak kekeringan di Kendal.
“Pendistribusian hari ini merupakan pendistribusian perdana yang kami lakukan. Selanjutnya masih banyak rencana yang akan dilakukan. Secara komprehensif dan bertahap akan kami laksanakan,” ujar Aman.
Menurut Aman, respons terhadap kekeringan tidak cukup hanya dilakukan melalui distribusi air bersih. Upaya jangka menengah dan panjang juga perlu disiapkan untuk memperkuat ketersediaan sumber air di wilayah terdampak.
Karena itu, LRB PDM Kendal telah menyiapkan sejumlah langkah lanjutan. Di antaranya revitalisasi mata air untuk mendukung distribusi air bersih, koordinasi dengan BPBD dan PMI Kabupaten Kendal, serta pengambilan donasi galon air mineral dari sejumlah titik pengepul di beberapa kecamatan.
Selain itu, galon yang terkumpul akan didistribusikan ke tempat pengisian air di Kauman, Sukorejo, secara bertahap. Galon kemudian dibersihkan dan diisi dengan air bersih sebelum kembali disalurkan kepada warga terdampak.
LRB juga akan melakukan asesmen lanjutan secara berkala. Asesmen tersebut diperlukan untuk mengetahui perkembangan kondisi masyarakat dan menentukan lokasi yang membutuhkan bantuan berikutnya.
“Setelah asesmen dilakukan secara berkala, distribusi air bersih akan diarahkan ke lokasi-lokasi yang masih terdampak dan membutuhkan bantuan,” lanjut Aman.
Wujud One Muhammadiyah One Response
Kolaborasi antara Lazismu dan LRB PDM Kendal dalam respons kekeringan tersebut menjadi bagian dari semangat One Muhammadiyah One Response (OMOR). Konsep ini menekankan pentingnya sinergi antarunsur Muhammadiyah dalam menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan.
Lazismu berperan dalam menghimpun dan mengelola dukungan masyarakat, sedangkan LRB menjalankan fungsi kebencanaan, asesmen, koordinasi lapangan, serta distribusi bantuan. Keduanya bergerak bersama agar sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
Krisis air bersih yang terjadi di sejumlah wilayah Kendal menunjukkan bahwa persoalan kekeringan membutuhkan penanganan yang terencana dan berkelanjutan. Distribusi air menjadi langkah darurat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi penguatan sumber air dan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan juga perlu menjadi perhatian.
Melalui kolaborasi berbagai pihak, Muhammadiyah Kendal berupaya memastikan masyarakat terdampak tidak menghadapi krisis air seorang diri. Bantuan yang dihimpun dari masyarakat kembali disalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kebutuhan paling mendasar: air bersih.
Gerakan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bencana dapat dilakukan melalui berbagai cara. Ada yang menyumbangkan dana, ada yang memberikan galon, ada yang membersihkan dan mengisi air, ada yang menyediakan kendaraan, serta ada pula yang terjun langsung mendistribusikan bantuan.
