Lazismu Kendal

Lazismu Kendal

Belajar Konservasi dari Kendal, DLH Kota Semarang Kunjungi Budidaya Alpukat Lazismu

KENDAL — Upaya konservasi lingkungan berbasis masyarakat yang dilakukan Lazismu Kendal melalui program budidaya alpukat menarik perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang. Selasa, 6 Oktober 2026, DLH Kota Semarang melakukan kunjungan studi banding ke Desa Gentinggunung, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, untuk mempelajari pengelolaan budidaya alpukat sebagai bagian dari upaya konservasi sekaligus mitigasi bencana tanah longsor.

Kunjungan tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman antara Lazismu Kendal, kelompok tani, dan DLH Kota Semarang mengenai pengelolaan lingkungan yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian alam, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Rombongan DLH Kota Semarang mengawali kunjungan dengan melihat secara langsung kawasan budidaya alpukat yang dikembangkan melalui program Lazismu Kendal. Di lokasi tersebut, rombongan berkesempatan melihat kondisi tanaman sekaligus memetik buah alpukat yang mulai memasuki masa panen.

Hamparan tanaman alpukat di kawasan Gentinggunung menjadi salah satu contoh bagaimana upaya konservasi dapat dikembangkan bersama masyarakat. Program tersebut tidak hanya mendorong penghijauan kawasan, tetapi juga diarahkan untuk memberikan nilai tambah ekonomi bagi para petani yang menjadi penerima manfaat.

Hingga saat ini, jumlah pohon alpukat yang telah ditanam mencapai sekitar 10.000 pohon. Dalam perjalanannya, sebagian tanaman mengalami kematian sehingga jumlah pohon yang masih tumbuh diperkirakan sekitar 6.000 pohon. Tanaman tersebut tersebar di kurang lebih 60 titik di wilayah pengembangan program.

Keberadaan tanaman alpukat di kawasan perbukitan diharapkan dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi. Dari sisi lingkungan, tanaman keras memiliki peran dalam menjaga tutupan lahan dan membantu mengurangi risiko erosi serta longsor. Sementara dari sisi ekonomi, buah alpukat dapat menjadi komoditas yang memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan.

Setelah melihat langsung lokasi budidaya alpukat, rombongan DLH Kota Semarang melanjutkan perjalanan menuju rumah Ketua Kelompok Tani Gunung Rejeki. Kelompok tani tersebut merupakan salah satu penerima manfaat sekaligus pelaksana program budidaya alpukat di kawasan Gentinggunung.

Di tempat tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dan diskusi mengenai proses pelaksanaan program, mulai dari penanaman, pemeliharaan, pengembangan tanaman, hingga manfaat yang dirasakan masyarakat.

Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal, H. Djamzuri, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada rombongan DLH Kota Semarang. Ia menyambut baik kunjungan tersebut dan berharap pertemuan dapat memberikan manfaat bagi kedua pihak.

“Selamat datang kepada DLH Kota Semarang di Kendal. Kami menyambut dengan hangat kunjungan ini. Semoga dari pertemuan dan kunjungan ini dapat saling memberikan manfaat, terutama dalam upaya menjaga lingkungan dan memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujar Djamzuri.

Sementara itu, Subkoordinator Konservasi Keanekaragaman Hayati DLH Kota Semarang, Indriana Puspita, yang akrab disapa Bu Ita, menyampaikan apresiasi kepada Lazismu Kendal karena telah menerima kunjungan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa kedatangan tim DLH Kota Semarang bukan sekadar melihat program secara langsung, tetapi juga untuk belajar dan menggali pengalaman yang dapat diterapkan di wilayah Kota Semarang.

“Terima kasih atas kesediaan Lazismu menerima kunjungan kami. Kedatangan kami ke sini utamanya adalah untuk belajar, menimba ilmu, dan mentransfer informasi yang dapat kami terapkan di Kota Semarang,” kata Ita.

Menurut Ita, bidang yang ditangani DLH Kota Semarang juga berkaitan dengan persoalan pencemaran dan konservasi. Karena itu, pengalaman Lazismu Kendal dalam mengembangkan budidaya tanaman alpukat di kawasan perbukitan dinilai relevan untuk dipelajari lebih lanjut.

Ita juga mengungkapkan kesan positif selama perjalanan menuju lokasi. Menurutnya, kawasan Kendal memiliki pemandangan alam yang berbeda dengan Kota Semarang.

“Dalam perjalanan ke Kendal, banyak pemandangan eksotis yang tim kami lihat. Ini berbeda dengan Semarang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pengalaman yang diperoleh melalui studi banding tersebut selanjutnya akan dikaji oleh DLH Kota Semarang. Salah satu rencana yang tengah dipertimbangkan adalah pengembangan upaya konservasi di kawasan Gunung Talang, Semarang.

“Setelah mendapatkan ilmu dan informasi dari studi banding ini, nanti akan kami kaji untuk konservasi alam juga di Gunung Talang, Semarang,” lanjut Ita.

Kunjungan tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab yang dipimpin oleh Ketua Badan Pengurus Lazismu Kendal, Sutiyono. Dalam sesi tersebut, peserta berdiskusi mengenai berbagai aspek pengembangan budidaya alpukat, mulai dari proses penanaman, perawatan tanaman, keterlibatan kelompok tani, hingga manfaat program terhadap lingkungan dan masyarakat.

Studi banding ini menunjukkan bahwa program lingkungan dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara lembaga filantropi, masyarakat, kelompok tani, dan pemerintah. Pengalaman Lazismu Kendal dalam mengembangkan budidaya alpukat di kawasan Gentinggunung menjadi salah satu praktik yang dapat dipelajari dan dikembangkan sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.

Program tersebut juga memperlihatkan bahwa konservasi lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Tanaman yang dikembangkan bukan hanya diharapkan mampu menjaga kelestarian kawasan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.

Melalui kunjungan DLH Kota Semarang ini, Lazismu Kendal berharap pengalaman yang telah dibangun bersama masyarakat Gentinggunung dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain. Kolaborasi lintas lembaga juga diharapkan mampu melahirkan lebih banyak program lingkungan yang berorientasi pada keberlanjutan, pemberdayaan masyarakat, serta pengurangan risiko bencana.

Dari Gentinggunung, pesan sederhana kembali mengemuka: menjaga lingkungan tidak harus berhenti pada menanam pohon. Ketika masyarakat dilibatkan, tanaman dirawat, dan hasilnya memberikan manfaat ekonomi, konservasi dapat tumbuh menjadi gerakan yang berkelanjutan.

Tentang Berita dan Artikel Lainya

Scroll to Top